BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang masalah
Agama Islam di
turunkan oleh Allah adalah untuk membimbing dan mengarahkan serta
menyempurnakan pertumbuhan dan perkembangan agama-agama dan budaya umat di muka
bumi. Agama-agama yang pada mulanya tumbuh dan berkembang berdasarkan
pengalaman dan penggunaan akal serta budi daya manusia, di arahkan oleh umat
Islam menjadi agama monotheisme yang benar. Sementara itu, Allah sendiri telah
menurunkan ajaran Islam sejak fase awal
dari pertumbuhan dan perkembangan akal dan budi daya manusia tersebut.
Sehingga, proses pendidikan Islam lah yang menjebatani ajaran Islam itu sampai
pada umat manusia.
Pendidikan Islam
merupakan suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan
kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman
bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik dunia maupun ukhrawi. Pendidikan
Islam, bila di lihat dari aspek kultural umat manusia merupakan salah satu alat
pembudayaan (enkulturasi ) masyarakat itu sendiri. Sebagai suatu alat,
pendidikan dapat difungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan
hidup manusiakepada titik optimal kemampuannya dalam memperoleh kesejahteraan
hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat. Pendidikan Islam, baik teoritis maupun praktis
cenderung berkembang dari waktu ke waktu sesuai dengan tempat dan momen-momen
yang dilaluinya. Hal demikian dapat kita lihat dari proses sejarah pemikiran masyarakat
tentang kependidikan, khususnya dalam masyarakat Islam.
Masuknya Islam
ke berbagai wilayah di Asia Tenggara tidak dalam satu waktu yang bersamaan,
tetapi berada dalam satu kesatuan proses sejarah yang panjang.
Kerajaan-kerajaan dan wilayah itupun berada dalam situasi politik dan kondisi
sosial budaya yang berbeda-beda. Untuk menghadapi pengaruh kerajaan Islam yang
semakin kuat di berbagai kota pantai maka kerajaan kecil tersebut bersekutu
dengan kekuasaan asing. Mulailah kolonialis memegang politik perekonomian di
Asia Tenggara. Kedatangan Islam di Asia Tenggaramempunyai aspek ekonomi,
politik, dan sosial budaya. Umat Islam secara demografis jumlahnya cukup kecil,
tetapi menjadi begitu penting karena beberapa di provinsi selatan yang
berbatasan dengan Malaysia beragama Islam dan memiliki radikalisme tinggi dan
bahkan semangat sparatisme (memerdekakan diri) dari Thailand. Membicarakan
Islam di Thailand, tidak mungkin tanpa sebelumnya membicarakan kerajaan Pattani,
karena keberadaan Islam di awali atau bermula sejak munculnya Kerajaan Pattani.
Selanjutnya
akan dibahas mengenai apa yang bersangkutan dengan pendidikan Islam yang ada di
Pattani (Thailand), baik dari segi pertumbuhan dan perkembangannya, lembaga dan
sistem pendidikan Islam di Pattani , terutama dalam sejarahnya.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka dapat
merumuskan masalah sebagai berikut :
1.
Proses
masuknya Islam dan perkembangannya di Pattani
2.
Pendidikan
islam di Pattani
C.
Tujuan
Makalah
1.
Untuk
mengetahui proses masuknya Islam dan perkembangannya di Pattani
2.
Untuk
mengetahui pendidikan Islam di Pattani
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Proses
Masuknya Islam dan Perkembangannya di Pattani
(1). Lahirnya kerajaan Pattani
Agama Islam
masuk ke wilayah Thailand (Muang Thai atau sering disebut negara Gajah Putih
ini) sekitar abad ke X atau XI melalui jalur
perdagangan. Yang mana penyebaran agama Islam ini di lakukan oleh sufi
dan pedagang yang berasal dari Arab dan pesisir India. Salah satu bukti yang
menguatkan adalah ditemukannya sebuah batu nisan yang bertuliskan Arab di dekat
Kampung Teluk Cik Munah, Pekan Pahang pada tahun 1028 Masehi. Ada juga pendapat
yang mengatakan Islam masuk ke Thailand melalui karajaan Samudera Pasai.[1]
Dahulu, ketika Kerajaan Samudera Pasai ditaklukan oleh Kerajaan
Siam (Thailand), Banyak orang-orang Islam yang ditawan. Saat itu, Raja Zainal
Abidinlah salah satu tawanan Kerajaan Siam yang kemudian dibawa ke Thailand.
Para tawanan itu akan dibebaskan apabila telah membayar uang tebusan. Kemudian
para tawanan yang telah bebas itu ada yang kembali ke Indonesiadan ada pula
yang menetap di Thailand dan menyebarkan agama Islam di Thailand Selatan yang
berbatasan langsung dengan Malaysia.
Agama Islam masuk ke Thailand di awali dengan munculnya kerajaan
Pattani. Dengan menggunakan sumber-sumber China, pada II abad Masehi, di pantai
timur semenanjung Timur Tanah Melayu telah muncul suatu negeri bernama Lang-ya-shiu(Langkasuka),
yang letaknya kira-kira antara wilayah Senggora (Songkhla) dan Kelantan.[2]
Kerajaan Langkasuka yang beribukota
Yarang ini berkembang, karena Teluk Langkasuka (Teluk Pattani sekarang )sangat
sesuai untuk berlabuh kapal-kapal dagang dari berbagai wilayah sekitarnya.
Menurut Paul Wheatly, kerajaan Langkasuka menguasai jalur perdagangan
timur-barat melalui Segenting Kra hingga ke Teluk Benggala.[3]
Kerajaan ini bertahan hingga menjelang abad XIII dan digantikan atau
dilanjutkan oleh Kerajaan Pattani.
Menurut
A. Teeaw dan Wyatt, berdasarkan tulisan Tome Pires dan lawatan Cheng Ho ke
daerah ini antara tahun 1404-1433, Kerajaan Pattani didirikan sekitar Abad XV.
Adapun menurut hikayat Pattani, Kerajaan Melayu Pattani mula-mula berpusat di
kota Mahligai dan diperintah oleh Phya Tu Kerab Mahayana. Kedudukan kota
Mahligai itu yang terlalu jauh ke pedalaman dan sukar untuk didatangi oleh
pedagang-pedagang telah menyebabkan Phya Tu Antara, anak adari Phya Tu Kerab
Mahayana, memindahkan pusat kerajaannya ke sebuah kota ke pelabuhan bernama
Pattani yang terletak di Kampung Gresik yang dahulunya juga merupakan pelabuhan
Kerajaan Langkasuka.
Pendapat yang lain masuknya
Islam ke Pattani, juga seperti sebuah cerita khayalan atau dongeng. Tapi memang
begitulah proses masuknya Islam ke sana. Sebagaimana dikisahkan dalam buku-buku
sejarah. Dikisahkan waktu itu, Pattani dipimpin oleh seorang raja yang bernama
Phya Tu Nakpa. Raja dikabarkan menderita sakit dan tidak kunjung sembuh. Dia
mendengar, ada seorang tabib. Tabib tersebut mau
mengobati sakit raja dengan syarat raja harus masuk Islam setelah sembuh dari
sakitnya. Raja menyetujui syarat sang tabib dan berjanji untuk masuk Islam
setelah sembuh. Lalu sang tabib pun mengobati raja. Tetapi, setelah sembuh sang
raja mengingkari janjinya. Dia tetap saja memeluk agamanya. Kemudian raja sakit
kembali dan diobati kembali. Kejadian itu terulang sampai tiga kali. Pada yang
ketiga kalinya raja menyerah dan insaf. Setelah sembuh dari sakitnya, raja
bersama keluarga dan pembesar istana memeluk Islam. Pada akhirnya, raja pun
mengganti namanya menjadi Sultan Ismail Shah. yang bisa mengobati sakitnya.
Sejak
itulah Islam mulai berkembang di Pattani dan ajaran Budha mulai ditinggalkan
yang pada akhirnya hilang dari Pattani. Islam berkembang dengan pesat di
Pattani tersebut. Dahulunya, Pattani bukanlah bagian dari Thailand (Siam),
melainkan daerah Islam yang berkembang dan maju di Selatan Siam. Sepeninggalnya,
raja digantikan oleh putranya, Sultan Muzaffar Shah. Dia meneruskan dan
memajukan negerinya. Tidak hanya itu, Sultan Muzaffar Shah juga melakukan
lawatan ke negara tetangga, termasuk Siam. Tapi lawatan Sultan Muzzafar tidak
di terima baik oleh Raja Siam. Karena kesombongan Raja Siam, yang menganggap
dirinya lebih terhormat, membuat Sultan Pattani marah dan merasa direndahkan.
Sehingga dia dan adiknya mengerahkan pasukan dan menyerang Siam yang ketika itu
sedang diserang oleh Burma. Akhirnya, Siam jatuh ketangan Sultan Muzaffar saat
itu juga. Tak lama kemudian, Raja Pattani meninggal dan digantikan oleh
adiknya. Sepeninggal adiknya, tahta diturunkan kepada putra Sultan Ismail Shah,
yang menimbulkan masalah pada kesultanan. Mulailah terjadi perpecahan di dalam
istanayang melibatkan keluarga raja juga putera-putera selir beliau.
(2). Awal masuknya Islam di Pattani
Kedudukan
Kerajaan Pattani terletak di daerah yang sangat strategi, yang di lalui lintas
perdagangan Timur-Barat. Hal inilah yang menyebabkan kerajaan Pattani ini cepat berkembang dan
menjadi kerajaan penting di selatan Siam dan utara semenanjung Malaka.
Pedagang-pedagang muslim telah mendatangi Pattani untuk berdagang dan
berdakwah. Itu sebabnya, diperkirakan bawa Islam mulai menginjakkan kaki di
Pattani lebih awal dari Malaka. Islam telah masuk di Kuala Berang, Trengganu sekitar
tahun 1386-1387.[4]
Dengan menggunakan analisis S.Q Fatimi, Islam datang ke Pattani melalui jalur
timur (China dan Campa) dan juga barat (Samudera Pasai).[5]
Phya Antara
kemudian memeluk agama Islam melalui seorang Ulama dari Pasai (Sumatera)
bernama Syeikh Said dan kemudian menukar gelarnya menjadi Sultan Ismail Syah
Zillullah Fil Alam.sejak itu juga, agama Islam telah mempengaruhi budaya dan
kehidupan keagamaan rakyat Pattani.
Hubungan
karajaan Pattani dengan Kerajaan Siam di utara menjadi sangat dekat, sekalipun
sudah berbeda agama. Meskipun hubungan kedunya sering kali diwarnai konflik,
saling menekan, menyerang dan menduduki, tetapi tidak jarang hubungan mereka
tampak saling menghargai. Sumber-sumber tradisional Siam mengatakan bahwa
Kerajaaan-Kerajaan Melayu Pattani dan juga Semenanjung Malaka berada di bawah
pengaruh Kerajaan Sukhotai mulai abad ke XIII, dan dilanjutkan oleh Kerajaan
Ayuthia pada abad XIV. Hubungan antara Pattani dan Ayuthia adalah hubungan
setaraf dan saling menghormati.[6]
(3). Perkembangan Islam di Pattani
Kerajaan
Malayu Pattani mengalami masa kejayaanya pada masa pemerintahan raja-raja
perempuan. Hal demikian juga menyebabkan Islam semakin luas di Kerajaan Pattani
ini sekitar tahun 1584-1624. Pada masa itu, Pattani muncul sebagai pusat
perdagangan penting di rantau ini. [7]
Pada
tahun 1631, Patani pernah menghantar bala tentera memihak kepada Siam dalam
peperangan menentang Patani. Diantara serangan Siam yang terbesar ke atas
Patani berlaku pada Mei 1634, dimana 60,000 bala tentera Siam melanggar Patani,
tetapi angkatan Siam ini mengalami kekalahan akibat serangan kuat dari gabungan
bala tentera Patani dan Portugis.
Untuk
menguatkan lagi kerajaan Patani, Kerajaan Patani telah bersekutu dengan Empayar
Johor-Pahang-Riau-Lingga apabila Raja Ungu
yang memakai gelaran Paduka Sultanah Syah Alam telah berkahwin dengan Sultan
Pahang, Sultan Abdul Ghafur dan hasil perkahwinan ini, lahirlah seorang puteri
bernama Raja Kuning yang menaiki takhta Patani setelah kemangkatan bondanya
pada tahun 1635ke Ligor (Nakhon
Si Thammarat) untuk membebaskan wilayah itu dari
cengkaman Siam, dua buah kapal Siam berjaya dirampas dengan 2 orang Belanda.
Kemudian angkatan Siam bejaya merampas kembali Ligor dari tangan Patani, tetapi
2 orang Belanda masih hilang, menyebabkan Belanda. Keagungan
dan kekuatan Pattani tidak kekal. Pada akhir pemerintahan Raja Kuning
(1635-1688), pattani menuju zaman kemerosotan. Hal itu disebabkan oleh konflik
perebutan antara sesama pewaris kerajaan. Intensitas perang saudara yang kerap
terjadi menyebabkan situasi keamanan tidak terjamin. Hal demikian juga
mempengaruhi kondisi Islam di wilayah tersebut.[8]
Pada setiap wilayah mempunyai
perkembangan yang berbeda-beda, begitu juga dengan Islam di Pattani berbeda
dengan Islam di Bangkok dan Chiang Mai. Masyarakat Islam di Pattani adalah
penduduk asli Pattani yang telah memeluk Islam sejak lama. Kondisi spesifik itu
diperkuat lagi oleh hubungan kekerabatan tradisional dengan umat Islam
diberbagai negara bagian di Malaysia Utara.
Lembaga Islam dalam perjuangan
pada saat itu salah satunya adalah Gerakan Rakyat Pattani (GRP) yang didirikan
oleh Haji Sulong pada 3 April 1947.[9]
Sejak akhir 1960an, masyarakat Islam Pattani kembali bangkit untuk menuntut
hak-haknya.
2. Pendidikan
Islam di Pattani
Di
Muangthai, Islam merupakan agama ke dua setelah Budha. Kaum muslimin adalah
sekelompok minoritas di kerajaan, khususnya Pattani. [10]Tahap
pertama Islam diwarnai dengan Tasawuf
dam mistik setidaknya sampai abad ke XVII. Hal ini karena dirasa paling cocok
dengan latar belakang masyarakat setempatyang dipengaruhi oleh asketisme
Hindu-Budha dan sinkretisme kepercayaan lokaldan tarekat cenderung lebih
toleran dengan tradisi semacam itu. Sehingga ditemukan bahwa terdapat nama-nama
ulamasufi terkenal sebagai penyebar Islam. Sufi di antaranya adalah Syeikh
Syafiuddin Ahmad Ad Dajjani Al Qusyasyi. Beliau adalah keturunan Abbas bin
Abdul Muthalib (paman Nabi Muhammad SAW). Diceritakan juga oleh dua orang
sezaman / bersahabat karib yang sama-sama menjalankan aktivitas dakwah Syeikh
Syafiuddin di Pattani.
(1).
Pengajaran
Pengajaran
agama Islam yang diberikan seiring dengan perkembangan zaman semakin luas. Di pusat-pusat pendidikan ini diajarkan
sebagai berikut:
1. Ilmu
akidah
2. Ibadah
3. Seni
baca Al-Qur’an
4. Hukum
Islam, dan
5. Akhlak[11]
(2).
lembaga / tempat pendidikan
Tempat
/ lembaga pendidikan yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Masjid
Dari aspek pendidikan
agama, setiap komunitas memiliki lembaga pendidikan yang biasanya dikaitkan
dengan masjid,yang memberikan pendidikan agama terutama bagi anak-anak muslim.[12]
2. Madrasah
Sejak tahun 1970an
telah didirikan sebuah madrasah menengah lanjutan (Chitpakdee) di kawasan
San Pah-Koy. Madrasah ini dimaksudkan
untuk menyiapkan tenaga terampil dalam bidang keislaman, sehingga para
lulusannya dapat mengajarkan Islam di tingkat lebih rendah atau melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Timur Tengah atau Asia Tenggara
lainnya.[13]
3.
Pondok
Pendidikan diperingkat menegah di Pattani
kebanyakannya dilaksankan oleh pihak swasta yang terdiri dari pondok - pondok yang setengah dari padannya menerusi
bantuan dari kerajaan dan sebagian lagi tidak mendapan bantuan kerajaan. Bahkan
system perbelanjaannya dibiyayai oleh
sendiri sisitem pendidikan tinggi biasnnya dilaksanakn oleh kerajaan (Hasan Madmam
2001) pondok jaman dahulu tidak didaftarkan di pemerintahan namum didaftarkan
di unit agama karena pada waktu itu pondok tidak diakui oleh system kerajaan[14]
(3). Pendidikan Islam pada masa kini
Pada 1980an, setelah menyajaanaksikan dan
mengevaluasi keberhasilan lembaga
Chitpakdee, mulailah dirancang sebuah usaha mendirikan pendidikan tinggi
sebagai lanjutan Chitpakdee dan mengantisipasi perkembangan sosial keagamaan
masyarakat muslim di Thailand ini[15].
Mayoritas muslim Thailand beraliran
Sunni dengan mazhab Syafi’i, walaupun terdapat juga mazhab Hanafi dan Syiah.
Oleh karena kentalnya pengaruh agama Budha dalam kehidupan masyarakat luas,
tidak mengherankan jika tradisi lama, seperti menggunakan azima, tolak bala,
dan kepercayaan pada hal-hal yang magic juga terdapat di kalangan muslim di Thailand.
Itulah sebabnya sejak awal abad XX di kalangan Muslim Bangkok khususnya dan
Thailand secara umum terjadi gerakan “Pembaharuan/ Pemurnian keagamman
(tajdid). [16]
Sebelum memasuki abad XX, Pendidikan
yang digalakan oleh pemerintah Kerajaan Thailand ini tergolong bersifat
deskriminatif terhadap Islam. Beberapa
Madrasah Islam yang di anggap ekstrim itu ditutup. Dalam sekolah-sekolah Islam
harus diajarkan pendidikan kebangsaan dan pendidikan etika bangsa yang diambil
dari inti sari ajaran Budha. Pada saat-saat tertentupun anak-anak sekolah harus
menyanyikan lagu-lagu bernafaskan Budha dan kepada guru harus menyembah dengan
sembah Budha. Kementrian pendidikan memutar balik sejarah, dikatakannya bahwa
orang Islam itulah yang jahat ingin menentang pemerintahan Shah di Syam dan menjatuhkan
raja. Dampak yang menonjol dari perkembangan yang berorientasi ke dalam hal ini
misalnya, pada tahun1966 sekitar 60% anak-anak di pattani tidak dapat berbicara
bahasa Nasional. Hal demikian berkaitan dengan banyaknya orang tua muslim yang
lebih senang mengirimkan anak-anaknya ke sekolah agama.[17]
Strategi yang perlu dibangun
masyarakat muslim ini adalah memajukan pendidikan, mendukung pembangunan
nasional, dan menjaga stabilitas lokal. Namun sampai saat ini, masyarakat
muslim Pattani menghadapai diskriminasi komplek dan teror yang berlarut-larut.
Pemerintah Thailandpun belum mampu memberikan pendidikan secara merata terhadap
kaum muslim
KESIMPULAN
Masuknya
Islam ke berbagai wilayah di Asia Tenggara tidak dilakukan dalam satu waktu
bersamaan, akan tetapi berada dalam suatu proses sejarah yang panjang. Kerajaan-kerajaan dan wilayahpun berada di
dalam situasi politik dan kondisi sosial yang berbeda-beda.begitu halnya dengan
Islam di Pattani yang tidak terlepas dari unsur budaya yang tercampur dengan
kehidupan agama Budha. Agama Islam masukke Thailand dengan ditandai munculnya
kerajaan Pattani yang lahir di abad ke XV ini.
Agama Islam mulanya dibawa oleh
para pedagang muslim. Selain berdagang, para pedagang muslimpun melakukan
dakwah dengan menyebarkan agama Islam, khususnya di Pattani.agama Islam datang
ke Pattani dengan melalui dua jalur, yaitu jalur timur (Cina dan Campa) dan
jalur barat (Samudera Pasai).
Pendidikan Islam di Pattani
ini dilakukan dengan berbagai pengajaran, yakni seperti ilmu akidah, ibadah,
seni dan baca Al Qur’anhukum Islam, serta akhlak.
Pada awalnya, masjid dijadikan tempat
utama dalam memberikan pendidikan dan pengajaran agama Islam terutama bagi
anak-anak muslim.kemudian seiring dengan berjalannya waktu, didirikanlah
madrasah sebagai lembaga pendidikan resmi. Pada tahun 1970an, didirikanlah
madrasah menengah lanjutan (Chitpakdee).
Mayoritas muslim beraliran
sunni dengan mazhab Syafi’i dan sebagian kecil bermazhabkan Hanafi dan Syiah.
Oleh karena pengaruh kentalnya agama Budha dalam kehidupan masyarakat luas,
tidak mengherankan jika tradisi lama seperti menggunakan azima, tolak bala, dan
kepercayaan pada hal-hal magic juga terdapat di kalangan muslim di Pattani ini. Sebelum memasuki abad ke XX, pendidikan yang
di galakan kerajaan Thailand ini tergolong bersifat deskriminatif terhadap
Islam. Beberapa madrasah yang dianggap ekstimpun ditutup. Pada saat-saat
tertentu anak-anak Islampun dituntut menyanyikan lagu-lagu bernafaskan Budha.
DAFTAR
PUSTAKA
Syaifullah. sejarah
dan kebudayaan Islam di Asia Tenggara. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2010
http:// Upm _pattani thailand
http://indramunawar.blogspot.com/2009/04/sejarah-perkembangan-islam-di-pattani
[1]http://indramunawar.blogspot.com/2009/04/sejarah-perkembangan-islam-di-pattani.html
[2]Syaifullah, Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara(Yogyakarta:pustaka
pelajar,2010).hlm.85
[3] Ibid, hlm.83
[4] Ibid, hlm.84
[6] Ibid, hlm. 84.
[7] Ibid, hlm. 85.
[9] Ibid, hlm. 98.
[10] Siti Maryam,dkk., SejarahPeradaban Islam, (Yogyakarta:LESFI,
2002), hlm.332.
[11] Saifullah, Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara,(Yogyakarta:pustaka
pelajar,2010), hlm.98.
[12] Ibid, hlm.98.
[13] Ibid, hlm.99.
[14]http:// Upm _pattanithailand
[15] Ibid, hlm.99.
[16] Ibid, hlm.100.